Selasa, 02 April 2013

PTK Sosiologi Bab II



BAB  II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

1.      Kajian Pustaka
a.      Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1)     Penelitian (reseach)  adalah kegiatan mencermati suatu obyek menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu materi (hal) yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2)     Tindakan (action) adalah sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3)     Kelas (classroom) adalah sekelompok siswa yang dalam waktu sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru baik di luar / di dalam kelas.
Dengan menggabungkan batasan tiga kata,  yaitu penelitian, tindakan dan kelas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.

b.      Pengertian Implementasi
Pengertian implementasi ditinjau dari segi bahasa, berasal dari kata “laksana” yang berarti (1) sifat tingkah laku, perbuatan (2) seperti, sebagai. Sedangkan  pelaksanaan didefinisikan sebagai proses, cara, perbuatan melaksanakan (rancangan, keputusan). (Tim Pembina Mata Kuliah Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi Kebijakan Publik, 2001:11)
Pengertian implementasi menurut beberapa ahli :
1)     Webster dalam (Abdul Wahab, 1997:64) merumuskan “to implement” berarti to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melakukan sesuatu). to give implementasions of goas and objective set orth in prior polisy decision”. Implementasi adalah suatu tindakan yang dilakukan baik oleh individu maupun kelompok pejabat atau pemerintah atau swasta yang diarahkan pada pencapaian tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.
2)     J.L.Presman dan Aaron B. Wildavsky: “Implementasi adalah proses interaksi antara seperangkat tujuan serta tindakan, dan menjadi jaringan yang tidak transparan”.
3)     Konsep implementasi menurut Danies A. Mazmanian dan Paul Sabatier (Abdul Wahab, 1987:5) adalah : “Memahami apa yang senyatanya terjadi setelah program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijakan, yaitu kejadian-kejadian atau kegiatan-kegiatan yang timbul setelah disahkannya pedoman-pedoman kebijaksanaan negara, yang mencakup baik usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat atau dampak nyata pada masyarakat atau kejadian-kejadian”.
Dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan pengertian dan unsur-unsur pokok proses implementasi sebagai berikut :
1)     Proses implementasi program kebijaksanaan ialah rangkaian kegiatan tindak lanjut (setelah sebuah program atau kebijaksanaan ditetapkan), yang terdiri atas pengambilan keputusan, langkah-langkah yang strategis maupun operasional yang ditempuh guna mewujudkan suatu program (kebijaksanaan) ditetapkan semula.
2)     Dalam proses implementasi sekurang-kurangnya terdapat tiga unsur yang penting dan mutlak, yaitu :
a)     Adanya program atau kebijaksanaan yang dilaksanakan.
b)     Target group yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran, dan diharapkan akan menerima manfaat dari program tersebut, perubahan atau peningkatan.
c)     Unsur pelaksana (implementor), baik organisasi atau perorangan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan, pelaksanaan, dan pengawasan dari proses implementasi tersebut.


      c.   Pengertian Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah segala peralatan yang dapat digunakan  atau didayagunakan untuk menunjang proses kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas dan atau di luar kelas, sehingga mampu membuat siswa lebih memahami bahan yang dipelajari.
Media pembelajaran meliputi :
1)     Media cetak  adalah media yang berbentuk cetakan (buku atau lembaran kertas) seperti : buku, majalah, bulletin, ensiklopedi, surat kabar, lembar kerja siswa, brosur, selebaran dan sebagainya.
2)     Media elektronik adalah media berbentuk elektronik yang menggunakan peralatan elektro seperti  televisi,  LCD, CD Player, Tape Recorder, Hand Phone, Telepon, Komputer (Internet) dan sebagainya.
3)     Media massa adalah segala peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dimana mereka berada.

      d.  Pengertian Motivasi
Ada dua prinsip  yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi ialah : (1) Motivasi dipandang suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuaan  yang kita amati dan untuk memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang; (2) Kita menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya . Apakah petunjuk-petunjuk dapat dipercaya, dapat dilihat kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan tingkah laku  lainnya .Menurut Mc. Donald (dalam Wasty Soemanto:191) : motivation is an energy change Within the person characterized  by affective arousal and anticipatory goal reaction.
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan .
Jadi fungsi motivasi itu meliputi (a) mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan . Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. (b) motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. (c) motivasi berfungsi sebagai penggerak, besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Sehubungan dengan permasalahan penggunaan motivasi dalam konteks belajar siswa, maka penggunaan motivasi akan ada kaitan erat dengan proses dan hasil belajar. Di bawah ini akan diuraikan sejumlah faktor atau motivasi.
Faktor-faktor Yang Ikut Mempengaruhi Hasil Belajar.
Sebenarnya faktor (motivasi) yang mempengaruhi proses dan hasil belajar ini banyak sekali. Pendidik atau guru diharapkan mengetahui hal ini, untuk selanjutnya bisa digunakan sebagai patokan dalam menganalisa kesulitan belajar siswa di sekolah.
Motivasi atau faktor yang dimaksud adalah :
1)     Faktor yang berasal dari luar diri siswa (Eksternal factors) atau disebut motivasi ekstrinsik, yaitu :
a)     Faktor Guru, misalnya guru mengajar kurang menguasai bahan yang diajarkannya, guru mengajar bukan vak atau bidangnya. Yang sering muncul dibenak siswa adalah pertanyaan “Mampukah guru ini mengajar bidang itu?” Akibat guru yang kurang menguasai bahan, siswa akan menjadi ragu-ragu dalam menerima pelajaran, yang akibatnya siswa kurang yakin akan  kebenaran yang diajarkannya. Termasuk juga guru yang mengajar kurang memenuhi kriteria seorang guru, misalnya cacat tubuh.
b)      Faktor Media Pembelajaran, guru sewaktu mengajar hendaknya mampu menggunakan multi media, dalam arti  guru mampu mengolah dan menggunakan sumber media yang ada sehingga murid menjadi krasan sekolah, dengan harapan titik akhirnya siswa mampu belajar dengan baik. Selain itu guru mengajar juga harus memperhatikan kesesuaian antara materi dengan media pembelajaran. Misalnya mengajar matematika dengan menggunakan banyak media elektronik , yang cocok kiranya menggunakan media cetak atau lingkungan sekitar yang banyak menuntut latihan dan perhitungan.
c)     Faktor Orang, bisa teman, pacar, orang tua, dll. Orang lain disini diartikan semua orang yang bisa menjadikan siswa lebih lancar dalam belajar atau justru akan menghambat atau kendala dalam proses belajar. Misalnya pacar, siswa mempunyai pacar sekelas dengannya, akibat yang mungkin timbul adalah pacar dianggap sebagai motivator belajar atau justru sebagai kendala belajar. Sebagai motivator dimungkinkan akan terjadi persaingan nilai atau prestasi yang lebih baik, namun sebaliknya kalau saling terpengaruh pada segi negative, akan dianggap sebagai kendala terbesar dalam proses belajarnya. Faktor orang tua bisa dianggap sebagai motivator keberhasilan, juga bisa dianggap sebagai rintangan pemikiran dalam belajar. Anak yang masuk dalam kategori remaja sering menganggap orang tua sebagai orang yang paling banyak merintangi tingkah lakunya, hal ini wajar karena remaja dengan orang tua sering terjadi konflik batin. Remaja menganggap dirinya mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, karena remaja menganggap dirinya sudah dewasa, tetapi begitu diberi beban tanggung jawab selayaknya orang dewasa ia tidak mampu. Alasan  dan kenyataan inilah yang akhirnya digunakan sebagai alasan mengapa remaja sering bertentangan dengan orang tua. Akibat akhir dari kenyataan ini adalah proses belajar anak akan menjadi terhambat, bila tidak bisa mengarahkan diri ke hal yang positif.
d)     Faktor Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah yang nyaman, sejuk dipandang dan dirasakan, akan mempengaruhi proses belajar. Hubungan yang akrab antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan orang tua siswa, atau termasuk semua warga sekolah berhubungan harmonis, akan mempengaruhi proses belajar mengajar yang ada di sekolah tersebut. Lingkungan tempat sekolah berada, misalnya sekolah yang dekat dari keramaian tentu hasilnya berbeda dengan sekolah berada pada  lingkungan yang asri, sejuk dipandang, jauh dari pencemaran suara (keramaian), dan pencemaran udara.
e)     Faktor Lingkungan Masyarakat. Lingkungan masyarakat di sini adalah lingkungan dimana anak setelah keluar dari sekolah ia berada. Misalnya di sore hari ia berkumpul-kumpul dengan teman yang tidak sekolah. Ia kumpul dengan anak-anak yang usianya lebih tinggi dengannya, dalam proses berkumpul itu pasti ada yang diomongkan atau ada kegiatan, yang jelas. Kegiatan itu bisa positif maupun negative. Bila positif maka pasti akan berdampak positif dalam perkembangan anak, tetapi bila yang dilakukan negatif, maka dampak yang terjadipun akan negatif.
f)      Faktor Sarana Belajar. Sarana belajar baik yang ada di rumah, sekolah, atau milik pribadi anak tersebut. Sering terjadi, anak tidak membawa alat tulis sendiri, ia menangguhkan teman untuk meminjamnya, buku pelajaran sering tidak dipunyainya, alat-alat  pelajaran yang lain sering diabaikan; hal ini berdampak negatif terhadap prestasi belajar anak. Dengan kenyataan di lapangan inilah, maka sebagai orang tua hendaknya sering juga mengontrol sarana belajar yang dimiliki putra-putrinya.
2)     Faktor yang berasal dari dalam diri anak (Motivasi Instrinsik), yaitu faktor :
a)     Faktor Fisiologis. Keadaan jasmani anak yang sedang belajar, mengantuk, sakit, kelelahan, kurang gizi, kurang energi, dll. Keadaan semacam inilah yang sering melatar belakangi segala aktivitas anak, yang titik akhirnya berdampak pada prestasi belajar anak. Apabila faktor fisiologis terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak positif juga terhadap prestasi belajarnya. Keadaan fungsi jasmani tertentu terutama fungsi pancaindra ikut berperan serta dalam dukungan ini. Bahkan dari fungsi-fungsi yang lain, maka panca indra merupakan fungsi yang dianggap sebagai hal yang sangat vital. Sebagai pendidik, baik di rumah, maupun di sekolah hendaknya sering mengontrol, memperhatikan dari masing-masing indra yang dipunyai anak didiknya. Misalnya ditemukan siswa yang kurang jelas dalam hal pendengarannya, maka kita sebagai guru harus tanggap akan hal ini dalam membantu penyelesaiannya, misalnya ditempatkan di bangku  paling depan. Ditemukan anak yang kurang peka terhadap apa yang dilihatnya, kerja sama dengan orang tua wali murid untuk segera memeriksakan putra-putrinya ke dokter, mungkin akan ditemukan gangguan penglihatan.
b)     Faktor Psikologis. Misalnya minat sekolah, kecerdasan / tingkat inteligensi, bakat, hoby, motivasi belajar, dan kemampuan kognitif lainnya.
Minat, dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tidak usah diragukan lagi kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, tidak dapat diharapkan kalau nanti dapat mencapai nilai maksimal. Sebaliknya kalau memang anak mempunyai minat untuk mempelajari sesuatu, ia akan berupaya untuk sukses, hasil yang akan dicapainya akan memuaskan. Dengan kenyataan seperti ini, bagaimana guru bisa menyajikan mata pelajarannya dengan metode yang bervariasi, sehingga menumbuhkan minat anak terhadap pelajaran yang dipelajarinya.
c)     Faktor Gen. Termasuk faktor kecakapan jiwa (IQ)
Kecerdasan, telah menjadi hal yang cukup popular bahwa, kecerdasan besar pengaruhnya dalam penentuan keberhasilan siswa. Anak yang cerdas umumnya lebih mampu belajar dengan baik dari pada anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang kurang. Hasil pengukuran kecerdasan biasanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan perbandingan antara yang satu dengan yang lain. Kecerdasan seseorang disebut juga Intellegence Quotient atau inteligensi.
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan erat terjadi antara tingkat intelegensi seseorang dengan prestasi belajar. Hidayat (1998 : 29) menyebutkan “Kurang lebih 25 % prestasi belajar seseorang ditentukan dari tingkat intelegensi anak, setelah dibuktikan dengan pengukuran psikologis”.
Motivasi, merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi belajar merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar, oleh karena itu bertambahnya motivasi belajar akan diikuti oleh meningkatnya prestasi belajar.
Kemampuan Kognitif, walaupun  sudah diakui bahwa belajar meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor; kadang-kadang dalam kenyataan di lapangan masih banyak orang yang menyatakan bahwa aspek kognitif saja yang perlu dikembangkan dalam belajar. Kenyataan yang demikian ini seharusnya tidak terjadi, walaupun dianggap itu benar. Kemampuan kognitif itu yang terutama adalah prestasi belajar, ingatan, dan berpikir digunakan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan prestasi belajar.



2.      Rencana Tindakan
Untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, direncanakan akan dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.      Tahap Perencanaan meliputi :
1)     Penjajakan dan eksplorasi masalah penelitian.
2)     Penyusunan proposal penelitian
3)     Konsultasi dan koordinasi
4)     Penyusunan instrumen penelitian
      b.  Tahap Pelaksanaan meliputi :
1)     Memberikan motivasi dan informasi belajar Sosiologi yang benar di kelas.
2)     Memberikan angket tentang media pengajaran di kelas.
3)     Menganalisa hasil angket, dan mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan mengenai media pembelajaran.
4)     Menggali data anak yang mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran Sosiologi di kelas yang berbeda berdasarkan prestasi yang telah diperolehnya.
5)     Penggunaan media pembelajaran pada mata pelajaran Sosiologi dengan layanan kelompok maupun individual. Direncanakan sekurang-kurangnya 4 kali pertemuan dengan interval waktu berdasarkan kesepakatan dengan siswa.
Pada tahap ini guru mata pelajaran Sosiologi (peneliti) mempersiapkan media pembelajaran yang diharapkan siswa dapat lebih memahami dan mengerti mengenai topik yang dibicarakan, berupa penyajian artikel, guntingan koran (kliping), CD, dan peralatan elektronik yang ada saat itu seperti (HP, kalkulator, dan jam tangan/dinding).
6)     Observasi tindak lanjut tentang prestasi mata pelajaran Sosiologi setelah diadakan  ulangan  harian  oleh guru (peneliti) mata pelajaran Sosiologi.
7)     Observasi dan refleksi lanjutan. Pada langkah ini dilaksanakan pada guru (peneliti) mata pelajaran  Sosiologi kelas XII IPS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar