Minggu, 17 Maret 2013

PTK : Bab II Pembelajaran Bola Voli


BAB  II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

1.      Kajian Pustaka
a.      Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
1)     Penelitian (reseach)  adalah kegiatan mencermati suatu obyek menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu materi (hal) yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2)     Tindakan (action) adalah sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3)     Kelas (classroom) adalah sekelompok siswa yang dalam waktu sama menerima pelajaran yang sama dari seorang guru baik di luar / di dalam kelas.
Dengan menggabungkan batasan tiga kata,  yaitu penelitian, tindakan dan kelas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
      b.   Pengertian Metode Pembelajaran
Metode  pembelajaran adalah teknik atau cara  yang dapat digunakan  atau didayagunakan untuk menunjang proses kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga mampu membuat siswa lebih termotivasi pada bahan yang dipelajari.
Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar sangatlah banyak dan bervariasi sesuai dengan mata pelajaran dan bahan yang diajarkan. Metode pembelajaran antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode peragaan, metode penugasan,  metode berpasangan metode kerja kelompok dan masih banyak metode yang lainnya.
Guru akan menggunakan beberapa metode dengan secara bervariasi sesuai dengan bahan yang diajarkan sehingga siswa merasa termotivasi  dalam mempelajari bhan yang diajarkan sehingga terjadi peningkatan prestasi pada anak didik.
      d.  Pengertian Motivasi
Ada dua prinsip  yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi ialah : (1) Motivasi dipandang suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini akan membantu kita menjelaskan kelakuaan  yang kita amati dan untuk memperkirakan kelakuan-kelakuan lain pada seseorang; (2) Kita menentukan karakter dari proses ini dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya . Apakah petunjuk-petunjuk dapat dipercaya, dapat dilihat kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan tingkah laku  lainnya .Menurut Mc. Donald (dalam Wasty Soemanto:191) : motivation is an energy change Within the person characterized  by affective arousal and anticipatory goal reaction.
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain motivasi mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan .
Jadi fungsi motivasi itu meliputi (a) mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan . Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. (b) motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. (c) motivasi berfungsi sebagai penggerak, besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Sehubungan dengan permasalahan penggunaan motivasi dalam konteks belajar siswa, maka penggunaan motivasi akan ada kaitan erat dengan proses dan hasil belajar. Di bawah ini akan diuraikan sejumlah faktor atau motivasi.
Faktor-faktor Yang Ikut Mempengaruhi Hasil Belajar.
Sebenarnya faktor (motivasi) yang mempengaruhi proses dan hasil belajar ini banyak sekali. Pendidik atau guru diharapkan mengetahui hal ini, untuk selanjutnya bisa digunakan sebagai patokan dalam menganalisa kesulitan belajar siswa di sekolah.
Motivasi atau faktor yang dimaksud adalah :
1)     Faktor yang berasal dari luar diri siswa (Eksternal factors) atau disebut motivasi ekstrinsik, yaitu :
a)     Faktor Guru, misalnya guru mengajar kurang menguasai bahan yang diajarkannya, guru mengajar bukan vak atau bidangnya. Yang sering muncul dibenak siswa adalah pertanyaan “Mampukah guru ini mengajar bidang itu?” Akibat guru yang kurang menguasai bahan, siswa akan menjadi ragu-ragu dalam menerima pelajaran, yang akibatnya siswa kurang yakin akan  kebenaran yang diajarkannya. Termasuk juga guru yang mengajar kurang memenuhi kriteria seorang guru, misalnya cacat tubuh.
b)     Faktor Metode Pembelajaran, guru sewaktu mengajar hendaknya mampu menggunakan multi metode, dalam arti  guru mampu mengolah dan menggunakan sumber media yang ada sehingga murid menjadi krasan sekolah, dengan harapan titik akhirnya siswa mampu belajar dengan baik. Selain itu guru mengajar juga harus memperhatikan kesesuaian antara materi dengan metode. Misalnya mengajar matematika dengan menggunakan banyak metode ceramah, yang cocok kiranya menggunakan metode tugas atau latihan.
c)     Faktor Orang, bisa teman, pacar, orang tua, dll. Orang lain disini diartikan semua orang yang bisa menjadikan siswa lebih lancar dalam belajar atau justru akan menghambat atau kendala dalam proses belajar. Misalnya pacar, siswa mempunyai pacar sekelas dengannya, akibat yang mungkin timbul adalah pacar dianggap sebagai motivator belajar atau justru sebagai kendala belajar. Sebagai motivator dimungkinkan akan terjadi persaingan nilai atau prestasi yang lebih baik, namun sebaliknya kalau saling terpengaruh pada segi negative, akan dianggap sebagai kendala terbesar dalam proses belajarnya. Faktor orang tua bisa dianggap sebagai motivator keberhasilan, juga bisa dianggap sebagai rintangan pemikiran dalam belajar. Anak yang masuk dalam kategori remaja sering menganggap orang tua sebagai orang yang paling banyak merintangi tingkah lakunya, hal ini wajar karena remaja dengan orang tua sering terjadi konflik batin. Remaja menganggap dirinya mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya, karena remaja menganggap dirinya sudah dewasa, tetapi begitu diberi beban tanggung jawab selayaknya orang dewasa ia tidak mampu. Alasan  dan kenyataan inilah yang akhirnya digunakan sebagai alasan mengapa remaja sering bertentangan dengan orang tua. Akibat akhir dari kenyataan ini adalah proses belajar anak akan menjadi terhambat, bila tidak bisa mengarahkan diri ke hal yang positif.
d)     Faktor Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah yang nyaman, sejuk dipandang dan dirasakan, akan mempengaruhi proses belajar. Hubungan yang akrab antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan orang tua siswa, atau termasuk semua warga sekolah berhubungan harmonis, akan mempengaruhi proses belajar mengajar yang ada di sekolah tersebut. Lingkungan tempat sekolah berada, misalnya sekolah yang dekat dari keramaian tentu hasilnya berbeda dengan sekolah berada pada  lingkungan yang asri, sejuk dipandang, jauh dari pencemaran suara (keramaian), dan pencemaran udara.
e)     Faktor Lingkungan Masyarakat. Lingkungan masyarakat di sini adalah lingkungan dimana anak setelah keluar dari sekolah ia berada. Misalnya di sore hari ia berkumpul-kumpul dengan teman yang tidak sekolah. Ia kumpul dengan anak-anak yang usianya lebih tinggi dengannya, dalam proses berkumpul itu pasti ada yang diomongkan atau ada kegiatan, yang jelas. Kegiatan itu bisa positif maupun negative. Bila positif maka pasti akan berdampak positif dalam perkembangan anak, tetapi bila yang dilakukan negative, maka dampak yang terjadipun akan negative.
f)      Faktor Sarana Belajar. Sarana belajar baik yang ada di rumah, sekolah, atau milik pribadi anak tersebut. Sering terjadi, anak tidak membawa alat tulis sendiri, ia menangguhkan teman untuk meminjamnya, buku pelajaran sering tidak dipunyainya, alat-alat  pelajaran yang lain sering diabaikan; hal ini berdampak negative terhadap prestasi belajar anak. Dengan kenyataan di lapangan inilah, maka sebagai orang tua hendaknya sering juga mengontrol sarana belajar yang dimiliki putra-putrinya.
2)     Faktor yang berasal dari dalam diri anak (Motivasi Instrinsik), yaitu faktor :
a)     Faktor Fisiologis. Keadaan jasmani anak yang sedang belajar, mengantuk, sakit, kelelahan, kurang gizi, kurang energi, dll. Keadaan semacam inilah yang sering melatar belakangi segala aktivitas anak, yang titik akhirnya berdampak pada prestasi belajar anak. Apabila faktor fisiologis terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak positif juga terhadap prestasi belajarnya. Keadaan fungsi jasmani tertentu terutama fungsi pancaindra ikut berperan serta dalam dukungan ini. Bahkan dari fungsi-fungsi yang lain, maka panca indra merupakan fungsi yang dianggap sebagai hal yang sangat vital. Sebagai pendidik, baik di rumah, maupun di sekolah hendaknya sering mengontrol, memperhatikan dari masing-masing indra yang dipunyai anak didiknya. Misalnya ditemukan siswa yang kurang jelas dalam hal pendengarannya, maka kita sebagai guru harus tanggap akan hal ini dalam membantu penyelesaiannya, misalnya ditempatkan di bangku  paling depan. Ditemukan anak yang kurang peka terhadap apa yang dilihatnya, kerja sama dengan orang tua wali murid untuk segera memeriksakan putra-putrinya ke dokter, mungkin akan ditemukan gangguan penglihatan.
b)     Faktor Psikologis. Misalnya minat sekolah, kecerdasan / tingkat inteligensi, bakat, hoby, motivasi belajar, dan kemampuan kognitif lainnya.
Minat, dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar, tidak usah diragukan lagi kalau seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, tidak dapat diharapkan kalau nanti dapat mencapai nilai maksimal. Sebaliknya kalau memang anak mempunyai minat untuk mempelajari sesuatu, ia akan berupaya untuk sukses, hasil yang akan dicapainya akan memuaskan. Dengan kenyataan seperti ini, bagaimana guru bisa menyajikan mata pelajarannya dengan metode yang bervariasi, sehingga menumbuhkan minat anak terhadap pelajaran yang dipelajarinya.
c)     Faktor Gen. Termasuk faktor kecakapan jiwa (IQ)
Kecerdasan, telah menjadi hal yang cukup popular bahwa, kecerdasan besar pengaruhnya dalam penentuan keberhasilan siswa. Anak yang cerdas umumnya lebih mampu belajar dengan baik dari pada anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang kurang. Hasil pengukuran kecerdasan biasanya dinyatakan dengan angka yang menunjukkan perbandingan antara yang satu dengan yang lain. Kecerdasan seseorang disebut juga Intellegence Quotient atau inteligensi.
Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa hubungan erat terjadi antara tingkat intelegensi seseorang dengan prestasi belajar. Hidayat (1998 : 29) menyebutkan “Kurang lebih 25 % prestasi belajar seseorang ditentukan dari tingkat intelegensi anak, setelah dibuktikan dengan pengukuran psikologis”.
Motivasi, merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi belajar merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk belajar, oleh karena itu bertambahnya motivasi belajar akan diikuti oleh meningkatnya prestasi belajar.
Kemampuan Kognitif, walaupun  sudah diakui bahwa belajar meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor; kadang-kadang dalam kenyataan di lapangan masih banyak orang yang menyatakan bahwa aspek kognitif saja yang perlu dikembangkan dalam belajar. Kenyataan yang demikian ini seharusnya tidak terjadi, walaupun dianggap itu benar. Kemampuan kognitif itu yang terutama adalah prestasi belajar, ingatan, dan berpikir digunakan sebagai kemampuan seseorang dalam melakukan prestasi belajar.

2.      Rencana Tindakan
Untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, direncanakan akan dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.Tahap Perencanaan meliputi :
1)     Penjajakan dan eksplorasi masalah penelitian.
2)     Penyusunan proposal penelitian
3)     Konsultasi dan koordinasi
4)     Penyusunan instrumen penelitian
      b.  Tahap Pelaksanaan meliputi :
1)     Memberikan motivasi dan informasi belajar pada bola voli yang benar.
2)     Memberikan angket tentang metode berpasangan pada  pengajaran.
3)     Menganalisa hasil angket, dan mengidentifikasi siswa yang mengalami masalah.
4)     Menggali data anak yang mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani berdasarkan prestasi yang telah diperolehnya.
5)     Memberikan bimbingan kepada siswa yang  mengalami kesulitan dalam penerapan metode berpasangan pada bola voli dengan layanan klasikal maupun individual. Direncanakan sekurang-kurangnya 4 kali pertemuan dengan interval waktu berdasarkan kesepakatan dengan siswa.
6)     Observasi tindak lanjut tentang prestasi mata pelajaran Pendidikan Jasmani setelah diadakan ujian praktek  oleh guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani.
7)     Observasi dan refleksi lanjutan. Pada langkah ini dilaksanakan guru mata pelajaran  Pendidikan Jasmani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar