BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA
TINDAKAN
1.
Kajian Pustaka
a.
Pengertian Penelitian Tindakan
Kelas (PTK)
1) Penelitian (reseach) adalah kegiatan mencermati suatu obyek
menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi
yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu materi (hal) yang menarik minat
dan penting bagi peneliti.
2) Tindakan (action) adalah sesuatu gerak kegiatan
yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang dalam penelitian berbentuk
rangkaian siklus kegiatan.
3) Kelas (classroom) adalah sekelompok siswa yang dalam waktu sama menerima
pelajaran yang sama dari seorang guru baik di luar / di dalam kelas.
Dengan menggabungkan batasan tiga kata, yaitu penelitian, tindakan dan kelas dapat
disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan
terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan
terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh
guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
b. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah teknik
atau cara yang dapat digunakan atau didayagunakan untuk menunjang proses
kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga mampu membuat siswa lebih termotivasi
pada bahan yang dipelajari.
Metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar sangatlah banyak dan
bervariasi sesuai dengan mata pelajaran dan bahan yang diajarkan. Metode
pembelajaran antara lain : metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi,
metode peragaan, metode penugasan, metode
berpasangan metode kerja kelompok dan masih banyak metode yang lainnya.
Guru akan menggunakan beberapa metode dengan secara bervariasi sesuai
dengan bahan yang diajarkan sehingga siswa merasa termotivasi dalam mempelajari bhan yang diajarkan
sehingga terjadi peningkatan prestasi pada anak didik.
d. Pengertian Motivasi
Ada dua prinsip yang dapat digunakan untuk meninjau motivasi
ialah : (1) Motivasi dipandang suatu proses. Pengetahuan tentang proses ini
akan membantu kita menjelaskan kelakuaan yang kita amati dan untuk memperkirakan
kelakuan-kelakuan lain pada seseorang; (2) Kita menentukan karakter dari proses
ini dengan melihat petunjuk-petunjuk dari tingkah lakunya . Apakah petunjuk-petunjuk
dapat dipercaya, dapat dilihat kegunaannya dalam memperkirakan dan menjelaskan
tingkah laku lainnya .Menurut Mc. Donald
(dalam Wasty Soemanto:191) : motivation
is an energy change Within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal
reaction.
Motivasi
adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan
timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dengan kata lain motivasi
mendorong timbulnya kelakuan dan mempengaruhi serta mengubah kelakuan .
Jadi fungsi
motivasi itu meliputi (a) mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan .
Tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan. (b) motivasi berfungsi
sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.
(c) motivasi berfungsi sebagai penggerak, besar kecilnya motivasi akan menentukan
cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Sehubungan dengan permasalahan penggunaan motivasi dalam konteks belajar
siswa, maka penggunaan motivasi akan ada kaitan erat dengan proses dan hasil
belajar. Di bawah ini akan diuraikan sejumlah faktor atau motivasi.
Faktor-faktor Yang Ikut Mempengaruhi Hasil Belajar.
Sebenarnya faktor (motivasi) yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
ini banyak sekali. Pendidik atau guru diharapkan mengetahui hal ini, untuk
selanjutnya bisa digunakan sebagai patokan dalam menganalisa kesulitan belajar
siswa di sekolah.
Motivasi atau
faktor yang dimaksud adalah :
1) Faktor yang berasal dari
luar diri siswa (Eksternal factors)
atau disebut motivasi ekstrinsik,
yaitu :
a) Faktor Guru, misalnya guru mengajar kurang menguasai bahan yang diajarkannya,
guru mengajar bukan vak atau bidangnya. Yang sering muncul dibenak siswa adalah
pertanyaan “Mampukah guru ini mengajar bidang itu?” Akibat guru yang kurang
menguasai bahan, siswa akan menjadi ragu-ragu dalam menerima pelajaran, yang
akibatnya siswa kurang yakin akan kebenaran yang diajarkannya. Termasuk juga
guru yang mengajar kurang memenuhi kriteria seorang guru, misalnya cacat tubuh.
b) Faktor Metode Pembelajaran, guru sewaktu mengajar hendaknya
mampu menggunakan multi metode, dalam arti guru mampu mengolah dan menggunakan sumber
media yang ada sehingga murid menjadi krasan sekolah, dengan harapan titik
akhirnya siswa mampu belajar dengan baik. Selain itu guru mengajar juga harus
memperhatikan kesesuaian antara materi dengan metode. Misalnya mengajar
matematika dengan menggunakan banyak metode ceramah, yang cocok kiranya
menggunakan metode tugas atau latihan.
c) Faktor Orang, bisa teman, pacar, orang tua, dll. Orang lain disini
diartikan semua orang yang bisa menjadikan siswa lebih lancar dalam belajar
atau justru akan menghambat atau kendala dalam proses belajar. Misalnya pacar, siswa mempunyai pacar sekelas
dengannya, akibat yang mungkin timbul adalah pacar dianggap sebagai motivator
belajar atau justru sebagai kendala belajar. Sebagai motivator dimungkinkan
akan terjadi persaingan nilai atau prestasi yang lebih baik, namun sebaliknya
kalau saling terpengaruh pada segi negative, akan dianggap sebagai kendala
terbesar dalam proses belajarnya. Faktor orang
tua bisa dianggap sebagai motivator keberhasilan, juga bisa dianggap
sebagai rintangan pemikiran dalam belajar. Anak yang masuk dalam kategori
remaja sering menganggap orang tua sebagai orang yang paling banyak merintangi
tingkah lakunya, hal ini wajar karena remaja dengan orang tua sering terjadi konflik
batin. Remaja menganggap dirinya mampu mengatasi segala persoalan yang
dihadapinya, karena remaja menganggap dirinya sudah dewasa, tetapi begitu
diberi beban tanggung jawab selayaknya orang dewasa ia tidak mampu. Alasan dan kenyataan inilah yang akhirnya digunakan
sebagai alasan mengapa remaja sering bertentangan dengan orang tua. Akibat
akhir dari kenyataan ini adalah proses belajar anak akan menjadi terhambat,
bila tidak bisa mengarahkan diri ke hal yang positif.
d) Faktor Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah yang nyaman, sejuk
dipandang dan dirasakan, akan mempengaruhi proses belajar. Hubungan yang akrab
antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan orang tua siswa, atau
termasuk semua warga sekolah berhubungan harmonis, akan mempengaruhi proses
belajar mengajar yang ada di sekolah tersebut. Lingkungan tempat sekolah
berada, misalnya sekolah yang dekat dari keramaian tentu hasilnya berbeda
dengan sekolah berada pada lingkungan
yang asri, sejuk dipandang, jauh dari pencemaran suara (keramaian), dan
pencemaran udara.
e) Faktor Lingkungan Masyarakat. Lingkungan masyarakat di sini adalah
lingkungan dimana anak setelah keluar dari sekolah ia berada. Misalnya di sore
hari ia berkumpul-kumpul dengan teman yang tidak sekolah. Ia kumpul dengan anak-anak
yang usianya lebih tinggi dengannya, dalam proses berkumpul itu pasti ada yang
diomongkan atau ada kegiatan, yang jelas. Kegiatan itu bisa positif maupun
negative. Bila positif maka pasti akan berdampak positif dalam perkembangan
anak, tetapi bila yang dilakukan negative, maka dampak yang terjadipun akan
negative.
f)
Faktor Sarana Belajar. Sarana belajar baik yang
ada di rumah, sekolah, atau milik pribadi anak tersebut. Sering terjadi, anak
tidak membawa alat tulis sendiri, ia menangguhkan teman untuk meminjamnya, buku
pelajaran sering tidak dipunyainya, alat-alat
pelajaran yang lain sering diabaikan; hal ini berdampak negative
terhadap prestasi belajar anak. Dengan kenyataan di lapangan inilah, maka
sebagai orang tua hendaknya sering juga mengontrol sarana belajar yang dimiliki
putra-putrinya.
2) Faktor yang berasal dari
dalam diri anak (Motivasi Instrinsik),
yaitu faktor :
a) Faktor Fisiologis. Keadaan jasmani anak yang sedang
belajar, mengantuk, sakit, kelelahan, kurang gizi, kurang energi, dll. Keadaan
semacam inilah yang sering melatar belakangi segala aktivitas anak, yang titik
akhirnya berdampak pada prestasi belajar anak. Apabila faktor fisiologis
terpenuhi dengan baik, maka akan berdampak positif juga terhadap prestasi
belajarnya. Keadaan fungsi jasmani tertentu terutama fungsi pancaindra ikut
berperan serta dalam dukungan ini. Bahkan dari fungsi-fungsi yang lain, maka
panca indra merupakan fungsi yang dianggap sebagai hal yang sangat vital.
Sebagai pendidik, baik di rumah, maupun di sekolah hendaknya sering mengontrol,
memperhatikan dari masing-masing indra yang dipunyai anak didiknya. Misalnya
ditemukan siswa yang kurang jelas dalam hal pendengarannya, maka kita sebagai
guru harus tanggap akan hal ini dalam membantu penyelesaiannya, misalnya
ditempatkan di bangku paling depan.
Ditemukan anak yang kurang peka terhadap apa yang dilihatnya, kerja sama dengan
orang tua wali murid untuk segera memeriksakan putra-putrinya ke dokter,
mungkin akan ditemukan gangguan penglihatan.
b) Faktor Psikologis. Misalnya minat sekolah, kecerdasan /
tingkat inteligensi, bakat, hoby, motivasi belajar, dan kemampuan kognitif
lainnya.
Minat, dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar, tidak usah diragukan lagi kalau
seseorang tidak berminat untuk mempelajari sesuatu, tidak dapat diharapkan
kalau nanti dapat mencapai nilai maksimal. Sebaliknya kalau memang anak
mempunyai minat untuk mempelajari sesuatu, ia akan berupaya untuk sukses, hasil
yang akan dicapainya akan memuaskan. Dengan kenyataan seperti ini, bagaimana
guru bisa menyajikan mata pelajarannya dengan metode yang bervariasi, sehingga
menumbuhkan minat anak terhadap pelajaran yang dipelajarinya.
c) Faktor Gen. Termasuk faktor
kecakapan jiwa (IQ)
Kecerdasan, telah menjadi hal yang cukup popular bahwa, kecerdasan besar
pengaruhnya dalam penentuan keberhasilan siswa. Anak yang cerdas umumnya lebih
mampu belajar dengan baik dari pada anak yang mempunyai tingkat kecerdasan yang
kurang. Hasil pengukuran kecerdasan biasanya dinyatakan dengan angka yang
menunjukkan perbandingan antara yang satu dengan yang lain. Kecerdasan
seseorang disebut juga Intellegence
Quotient atau inteligensi.
Beberapa
penelitian telah membuktikan bahwa hubungan erat terjadi antara tingkat
intelegensi seseorang dengan prestasi belajar. Hidayat (1998 : 29) menyebutkan
“Kurang lebih 25 % prestasi belajar seseorang ditentukan dari tingkat
intelegensi anak, setelah dibuktikan dengan pengukuran psikologis”.
Motivasi, merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk
melakukan sesuatu. Motivasi belajar merupakan kondisi psikologis yang mendorong
seseorang untuk belajar, oleh karena itu bertambahnya motivasi belajar akan
diikuti oleh meningkatnya prestasi belajar.
Kemampuan Kognitif, walaupun sudah
diakui bahwa belajar meliputi tiga aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif,
dan aspek psikomotor; kadang-kadang dalam kenyataan di lapangan masih banyak
orang yang menyatakan bahwa aspek kognitif saja yang perlu dikembangkan dalam
belajar. Kenyataan yang demikian ini seharusnya tidak terjadi, walaupun
dianggap itu benar. Kemampuan kognitif itu yang terutama adalah prestasi
belajar, ingatan, dan berpikir digunakan sebagai kemampuan seseorang dalam
melakukan prestasi belajar.
2.
Rencana Tindakan
Untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini, direncanakan akan
dilakukan melalui serangkaian kegiatan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.Tahap Perencanaan meliputi :
1) Penjajakan dan eksplorasi
masalah penelitian.
2) Penyusunan proposal
penelitian
3) Konsultasi dan koordinasi
4) Penyusunan instrumen
penelitian
b.
Tahap Pelaksanaan meliputi :
1) Memberikan motivasi dan
informasi belajar pada bola voli yang benar.
2) Memberikan angket tentang metode
berpasangan pada pengajaran.
3) Menganalisa hasil angket,
dan mengidentifikasi siswa yang mengalami masalah.
4) Menggali data anak yang
mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani berdasarkan
prestasi yang telah diperolehnya.
5) Memberikan bimbingan
kepada siswa yang mengalami kesulitan
dalam penerapan metode berpasangan pada bola voli dengan layanan klasikal
maupun individual. Direncanakan sekurang-kurangnya 4 kali pertemuan dengan
interval waktu berdasarkan kesepakatan dengan siswa.
6) Observasi tindak lanjut
tentang prestasi mata pelajaran Pendidikan Jasmani setelah diadakan ujian
praktek oleh guru mata pelajaran Pendidikan
Jasmani.
7) Observasi dan refleksi
lanjutan. Pada langkah ini dilaksanakan guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar