BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kurikulum bahasa Indonesia umumnya bertujuan
supaya siswa sekolah menengah atas telah
mempunyai kemampuan dalam menggunakan bahasa Indonesa sebagai alat komunikasi,
alat mengembangkan ilmu pengetahuan, mempertinggi kemampuan berbahasa, dan
menimbulkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia; sebagai alat bantu
pemersatu dari beragam suku yang ada di Indonesia.
Mulai dari kurikulum 1968 hingga kurikulum
yang sekarang, tujuan umumnya adalah sama, yaitu supaya siswa terampil
menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, menambah ilmu
pengetahuan, mempercepat dan mempertinggi penalaran. Dan sisi lainya adalah
untuk memperhalus budi bahasa murid sekolah menengah atas.
Kurikulum hanya sebagai rambu – rambu materi
pelajaran, tujuan pelajaran dan pembelajarannya. Gurulah yang berperan besar
bagaimana seharusnya pembelajaran bahasa diprogramkan dan dilaksanakan. Jika
guru mahir menganalisis kebutuhan kurikulum yang diserasikan dengan kebutuhan
perkembangan anak, maka apa pun bentuk kurikulum, tidak akan pernah menyulitkan
guru.
Setiap pengajaran / pembelajaran pada
tingkat usia Sekolah menengah atas haruslah berpusat pada kebutuhan
perkembangan anak sebagai calon individu yang unik, sebagai mahkluk sosial, dan
sebagai calon manusia Indonesia seutuhnya sesuai amanat UUD 1945. Dengan
demikian, setiap guru yang akan mengajar harus mempersiapkan dirinya untuk
dapat menjembatani kebutuhan perkembangan anak. Pemahaman kebutuhan tumbuh
kembang diri anak harus seimbang dengan pertumbuhan keinginan masyarakat .
Berdasar pernyataan tersebut diatas, guru
harus arif bijaksana, penuh rasa kasih sayang dalam melaksanakan dialog antara
kebutuhan / tuntutan kurikulum yang harus dicapai, dengan kebutuhan anak di
sekolah. Setiap konsep atau materi yang akan diajarkan, guru harus bertanya:
Apakah sesuai dengan kemampuan nalar anak ? Apakah dikenal anak? Bagaimana
supaya menarik dan menyenangkan? Bagaimana supaya diingat anak? Apakah sesuai
dengan kebutuhan perkembangan anak? Apakah anak mengerti tentang apa yang
didengar ataupun diucapkannya? Dan sebagainya.
Pembelajaran yang baik dan benar adalah jika
pembelajaran itu dapat mendorong siswa untuk mencari tahu lebih banyak. Belajar
haruslah dirasakan sebagi suatu kebutuhan. Ada rasa kepuasan tertentu jika ia
telah menyelesaikan tugas tertentu. Ia merasa menyatu dengan proses
pembelajarannya. Seluruh diri anak terlibat secara utuh.
Keberhasilan pembelajaran selain ditentukan
oleh guru ditentukan juga oleh siswa. Siswa merupakan tujuan akhir dari proses
pembelajaran. Sebagus apapun metode pengajaran yang diupayakan oleh guru jika
minat dan motivasi siswa untuk belajar sangat rendah maka tujuan pembelajaran
tidak akan tercapai. Maka perlu bagi guru untuk meningkatkan motivasi siswa melalui
metode pengajaran yang tepat supaya materi pelajaran yang disampaikan dapat
dimengerti oleh siswa.
Salah satu metode pembelajaran yang
melibatkan siswa aktif adalah metode pembelajaran kooperatif . Pada dasarnya
masing – masing siswa memiliki derajat potensi, latar belakang historis, serta harapan masa depan yang berbeda– beda.
Karena adanya perbedaan maka dapat saling silih asah. Pembelajaran kooperatif
secara sadar menciptakan interaksi yang silih salah sehingga sumber belajar
bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama manusia.
Pembelajaran kooperatif memiliki beberapa
model pembelajaran yaitu STAD (Student Teams Achievement Division), model
jigsaw, model Group Investigation, dan model struktural. Dalam penelitian ini
peneliti memilih metode pembelajaran kooperatif dengan model Sttruktural
sebagai objek eksperimen.
Pemilihan model struktural sebagai fokus
penelitian ini, disebabkan model struktural memiliki potensi lebih dari pada
pembelajaran dengan menggunakan metode konvensional dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa melalui sistem gotong royong saling membantu. Suasana belajar
kooperatif menghasilkan hasil belajar yang lebih baik, hubungan yang lebih
positif, dan penyesuaian psikologis yang lebih baik dari pada suasana belajar
yang penuh dengan persaingan. Hal ini yang mendorong peneliti untuk memilih
pembelajaran kooperatif sebagai objek penelitian.
Berdasarkan
uraian di atas, judul yang diambil oleh peneliti dalam penelitian ini adalah Penggunaan
Strategi Pembelajaran Model Struktural Dalam Upaya Memotivasi Siswa Untuk peningkatan
Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas XII SMA
Katolik Yos Sudarso Kepanjen Malang Tahun Pelajaran 2008/2009
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan suatu masalah sebagai berikut:
- Bagaimanakah peningkatan prestasi belajar siswa dengan diterapkannya pembelajaran struktural?
- Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran struktural terhadap motivasi belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai
dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
- Ingin mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran struktural.
- Ingin mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran struktural.
D. Manfaat Penelitian
Penulis
mengharapkan dengan hasil penelitian ini dapat:
- Memberikan informasi tentang metode pembelajaran yang sesuai dengan materi bahasa Indonesia.
- Meningkatkan motivasi pada pelajaran bahasa Indonesia
- Mengembangkan metode pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi Bahasa Indonesia.
E. Batasan Masalah
Karena
keterbatasan waktu, maka diperlukan pembatasan masalah meliputi:
- Penelitian ini hanya dikenakan pada siswa Kelas XII SMA Katolik Yos Sudarso Kepanjen Malang Tahun Pelajaran 2008/2009.
- Penelitian ini dilakukan pada bulan September semester ganjil tahun pelajaran 2008/2009.
- Materi yang disampaikan adalah pokok bahasan Novel.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka
dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil. Ahli pedagogik Dewey mengharuskan
guru menciptakan di dalam lingkungan belajarnya suatu sistem sosial yang
dicirikan dengan prosedur demokrasi dan proses ilmiah. Tanggung jawab utama
mereka adalah memotivasi siswa untuk bekerja secara kooperatif dan untuk
memikirkan masalah sosial penting yang muncul pada hari itu.
Ada
beberapa definisi pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh para ahli
pendidikan. Menurut Slavin (dalam Risnawati, 2005:18) pembelajaran kooperatif
mengandung pengertian siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan
bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun
kelompok. Selain definisi tersebut Cohen (dalam Risnawati, 2005:18)
mengemukakan pembelajaran kooperatif meliputi belajar berkolaborasi, belajar
secara kooperatif, dan kerja kelompok. Hal itu menunjukkan arti sosiologis
yaitu penekanannya pada aspek tugas-tugas kolektif yang harus dikerjakan secara
kelompok. Guru berperan sebagai fasilitator dalam membimbing siswa
menyelesaikan materi tugas.
Pengajaran
kooperatif (cooperative learning) memerlukan pendekatan pengajaran melalui
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar dalam mencapai tujuan belajar.
B. Motivasi Belajar
1. Pengertian Motivasi
1. Pengertian Motivasi
Motif adalah daya dalam diri
seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu, atau keadaan seseorang
atau organisme yang menyebabkan kesiapan kesiapannya untuk memulai serangkaian
tingkah laku atau perbuatan. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk
menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi
kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu
yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan
tertentu (Usman, 2000: 28).
Sedangkan menurut Djamarah
(2002: 114) motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri
seseorang kedalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
proses belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini
sesuai dengan yang diungkapkan oleh Nur (2001: 3) bahwa siswa yang termotivasi
dalam belajar sesuatu akan menggunakan proses kognitif yang lebih tinggi dalam
mempelajari materi itu, sehingga siswa itu akan menyerap dan mengendapkan materi
itu dengan lebih baik.
Jadi motivasi adalah suatu
kondisi yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan
tertentu.
- Macam-macam Motivasi
Menurut
jenisnya motivasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Motivasi Intrinsik
Jenis motivasi ini timbul
sebagai akibat dari dalam individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau
melakukan sesuatu atau belajar (Usman, 2000: 29).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 115),
motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya
tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu.
Ada beberapa strategi dalam
mengajar untuk membangun motivasi intrinsik. Strategi tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Mengaitkan tujuan
belajar dengan tujuan siswa.
2) Memberikan kebebasan
dalam memperluas materi pelajaran sebatas yang pokok.
3) Memberikan banyak
waktu ekstra bagi siswa untuk mengerjakan tugas dan memanfaatkan sumber belajar
di sekolah.
4) Sesekali memberikan
penghargaan pada siswa atas pekerjaannya.
5) Meminta siswa untuk
menjelaskan hasil pekerjaannya.
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa motivasi instrinsik adalah motivasi yang timbul dari dalam
individu yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Seseorang yang
memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya maka secara sadar akan melakukan
suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya.
b. Motivasi Ekstrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai
akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau
paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian akhirnya ia mau
melakukan sesuatu atau belajar. Misalnya seseorang mau belajar karena ia
disuruh oleh orang tuanya agar mendapat peringkat pertama dikelasnya (Usman,
2000: 29).
Sedangkan menurut Djamarah (2002: 117),
motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi
ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang
dari luar.
Beberapa cara membangkitkan motivasi
ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi instrinsik antata lain:
1) Kompetisi
(persaingan): guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk
meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang
telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
2) Pace
Making
(membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar
guru, hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TUJUAN PEMBELAJARAN
yang akan dicapai sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TUJUAN
PEMBELAJARAN tersebut.
3) Tujuan yang jelas:
Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, makin besar
nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi
dalam melakukan sesuatu perbuatan.
4) Kesempurnaan untuk
sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan
terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya.
Dengan demikian, guru hendaknya banyak memberikan kesempatan kepada anak untuk
meraih sukses dengan usaha mandiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
5) Minat yang besar:
Motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
6) Mengadakan penilaian
atau tes. Pada umumnya semua siswa mau belajar dengan tujuan memperoleh nilai
yang baik. Hal ini terbukti dalam kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar
bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan
diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia
mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang
kuat bagi siswa.
Dari uraian di atas diketahui
bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang timbul dari luar individu yang
berfungsinya karena adanya perangsang dari luar, misalnya adanya persaingan,
untuk mencapai nilai yang tinggi, dan lain sebagainya.
C. Bagaimana
Menjadikan Siswa Aktif Sejak Awal
Dalam memulai pelajaran apapun,
kita sangat perlu menjadikan siswa aktif semenjak awal. Jika tidak, kemungkinan
besar kepasifan siswa akan melekat seperti semen yang butuh waktu lama untuk
mengeringkannya. Susunlah aktivitas pembuka yang menjadikan siswa lebih
leluasa, ikut berfikir, dan memperlihatkan minat terhadap pelajaran.
Pengalaman-pengalaman ini bisa dianggap sebagai hidangan pembuka sebelum makana
utama, pengalaman ini membuat siswa berselera untuk menikmati hidangan selanjutnya.
Memang ada sebagian guru yang memilih untuk memulai pelajaran hanya dengan
pengenalan singkat, namun menambahkan setidaknya satu latihan pembuka pada
rencana pengajaran.
D. Hasil Belajar
Hasil
belajar siswa adalah nilai yang diperoleh siswa selama kegiatan belajar
mengajar. Belajar diarTujuan Pembelajaranan sebagai gejala perubahan tingkah
laku yang relatif permanen dari seseorang dalam mencapai tujuan tertentu De
Cecco (dalam Witjaksono, 1985:6). Menurut Gagne (dalam Witjksono, 1985:6)
belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam disposisi atau kapabilitas
seseorang, dalam kurun waktu tertentu, dan bukan semata-mata sebagai proses
pertumbuhan. Pendapat senada juga diutarakan oleh Suryobroto (1997:1) yang
menyatakan bahwa belajar merupakan proses dimana otak atau pikiran mengadakan
reaksi terhadap kondisi-kondisi luar dan reaksi itu dapat dimodifikasi dengan
pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya. Melalui proses belajar anak
dapat mengadaptasikan dirinya pada lingkungan hidupnya. Adaptasi itu dapat
berupa perubahan pikiran, sikap, dan ketrampilan.
Selaras
dengan pernyataan di atas penekanan perhatiaannya pada apa yang mesti dikuasai
oleh individu. Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum kedalam tiga
kawasan yang terkenal dengan taksonomi Bloom adalah sebagai berikut:
- Domain kognitif, terdiri atas 6 tingkatan yaitu:
a.
Pengetahuan (mengingat, menghafal)
b.
Pemahaman (mengintepretasikan)
c.
Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah)
d.
Analisis (menjabarkan suatu konsep)
e.
Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi
suatu konsep utuh)
f.
Evaluasi (membandingkan nilai-nilai, ide, metode, dsb)
- Domain psikomotor, terdiri atas 5 tingkatan yaitu:
a.
Peniruan (menirukan gerak)
b.
Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
c.
Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
d.
Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
- Domain afektif, terdiri atas 5 tingkatan yaitu:
a.
Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
b.
Merespon (aktif berpartisipasi)
c.
Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada
nilai-nilai tertentu)
d.
Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang
dipercayainya)
e.
Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagian bagian dari
pola hidupnya)
Hasil
belajar yang diukur pada pembelajaran yang berlandaskan kurikulum 2004 meliputi
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. Maka guru tidak hanya menilai
siswa dari aspek intelektual tetapi kemampuan sosial, sikap siswa selama proses
belajar mengajar serta keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran juga dinilai
oleh guru. Siswa yang telah mengalami pembelajaran diharapkan memilki
pengetahuan dan ketrampilan baru serta perbaikan sikap sebagai hasil dari
pembelajaran yang telah dialami siswa tersebut. Pengukuran hasil belajar
bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa dalam menyerap materi.
Sebaiknya hasil belajar yang telah
dinilai oleh guru diberitahukan kepada siswa agar siswa mengetahui kemajuan
belajar yang telah dilakukannya serta kekurangan yang masih perlu diperbaiki.
Penilaian hasil belajar pada akhirnya sebagai bahan refleksi siswa mengenai
kegiatan belajarnya dan refleksi guru terhadap kemampuan mengajarnya serta
mengevaluasi pencapaian target kurikulum.
Benjamin
S. Bloom dalam Taxonomy of Education
Objectives (Winkel, 1996:274) membagi hasil belajar kedalam tiga ranah:
1.
Ranah
Kognitif
Ranah kognitif (berkaitan
dengan daya piker, pengetahuan, dan penalaran) berorientasi pada kemampuan
siswa dalam berfikir dan bernalar yang mencakup kemampuan siswa dalam mengingat
sampai memecahkan masalah, yang menuntut siswa untuk menggabungkan
konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya. Ranah kognitif ini berkenaan
dengan prestasi belajar dan dibedakan dalam enam tahapan, yaitu pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analsisi, sintesis, dan eveluasi. Pada siswa SMP
diutamakan pada ranah pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.
Pengetahuan
mencakup kemampuan mengingat tentang hal yang telah dipejari, dan tersimpan
dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, kaidah,
prinsip, teori, dan rumus. Pengetahuan yang telah tersimpan dalam ingatan,
digali pada saat dibutuhkan dalam bentuk mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition).
Pemahaman
mencakup kemampuan untuk menyerap makna dan arti dari bahan yang dipelajari.
Kemampuan seseorang dalam memahami sesuatu dapat dilihat dari kemampuaannya
menyerap suatu materi, kemudian mengkomunikasikannya dalam bentuk lainnya
dengan kata-kata sendiri.
Penerapan
mencakup kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam
kegiatan pembelajaran untuk menghadapi situasi baru dalam kehidupan
sehari-hari. Tingkat penerapan ini dapat diukur dari kemampuan menggunakan
konsep, prinsip, teori, dan metode untuk menghadapi masalah-masalah dalam
kehidupan sehari-hari.
2.
Ranah Psikomotor
Ranah
psikomotor berorientasi kepada ketrampilan fisik, ketrampilan motorik, atau
ketrampilan tangan yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang
memerlukan koordinasi antara syaraf dan otot. Simpson (dalam Winkel, 1996:278)
menyatakan bahwa ranah psikomotor terdiri dari tujuh jenis perilaku yaitu:
persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan
kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.
Sedangkan
menurut Kibler, Barker, dan Miles (dalam Dimyati dan Mudjiono, 1994:195-196)
ranah psikomotor mempunyai taksonomi berikut ini:
a.
Gerakan tubuh yang mencolok, merupakan kemampuan gerakan
tubuh yang menekankan kepada kekuatan, kecepatan, dan ketepatan tubuh yang
mencolok.
b.
Ketepatan gerakan dikordinasikan, merupakan ketrampilan
yang berhubungan dengan gerakan mata, telinga, dan badan.
c.
Perangkat komunikasi non verbal, merupakan kemampuan
mengadakan komunikasi tanpa kata
d.
Kemampuan berbicara, merupakan kemampuan yang berhubungan
dengan komunikasi secara lisan Untuk kemampuan berbicara, siswa harus mampu
menunjukkan kemahirannya memilih dan menggunakan kata atau kalimat sehingga
informasi, ide, atau yang dikomunikasikannya dapat diterima secara mudah oleh
pendengarnya.
3.
Ranah Afektif
Ranah
afektif (berkaitan dengan perasaan/kesadaran, seperti perasaan senang atau
tidak senang yang memotivasi seseorang untuk memilih apa yang disenangi)
berorientasi pada kemampuan siswa dalam belajar menghayati nilai objek-objek
yang dihadapi melalui perasaan, baik objek itu berupa orang, benda maupun
peristiwa. Ciri lain terletak dalam belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk
ekspresi yang wajar. Menurut Krochwall Bloom (dalam Winkel 1996:276) ranah
afektif terdiri dari penerimaan, partisipasi, penilaian, dan penentuan sikap,
organisasi, dan pembentukan pola hidup.Untuk ranah kognitif, guru menilai
kemampuan kognitif siswa berdasarkan hasil tes yang diberikan kepada siswa pada
akhir pelaksanaan siklus 1 dan 2.
F. Pembelajaran Terstruktur
1. Pengertian
Pembelajaran tersetruktur, adalah bentuk pembelajaran
sistematis. Dalam pelaksanaan pembelajaran tersetruktur, guru menyampaikan
tujuan yang ingin dicapai dalam prose situ. Dapat juga pembelajaran terstruktur
ini disebutkan sebagai pembelajaran yang berorientasi pada tujuan yang ingin
dicapai.
- Tugas Terstruktur
Tugas terstruktur adalah salah
satu bentuk kegiatan kurikuler sebagai sarana untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Setiap proses kegiatan pasti ada arah tujuan yang hendak dicapai,
demikian halnya belajar mengajar yang dilakukan guru. Guru diharapkan memiliki
strategi tertentu dalam melaksanakan pembelajaran, agar tujuan dapat dicapai
secara efektif dan efisien.
- Tujuan dan Lingkup Tugas Tersetruktur
Tugas terstruktur dapat
diberikan kepada siswa di luar proses pembelajaran. Tujuan pemberian tugas
terstruktur adalah untuk menunjang pelaksanaan program intrakurikuler. Tujuan
tersebut juga agar siswa dapat lebih menghayati bahan-bahan pelajaran yang
telah dipelajarinya serta melatih siswa untuk melaksanakan tugas secara
bertanggung jawab.
Ruang lingkup kegiatan tugas
terstruktur dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat), sebagai berikut:
a. Guru memberikan
tugas kepada siswa untuk dikerjakan di luar jam pelajaran tatap muka (di rumah)
b. Tugas diperkirakan
dapat diselesaikan dalam waktu separoh dari jam tatap muka suatu pokok bahasan.
c. Siswa mengerjakan
tugas tersebut secara individu maupun kelompok.
d. Pengumpulan tugas
sekaligus dilakukan pemeriksaan, dan penilaian.
- Azas Pelaksanaan
Kegiatan terstruktur dapat
dilaksanakan di rumah, di perpustakaan atau di tempat lain. Bentuknya juga
dapat disesuaikan dengan materi pokok bahasan yang sedang dipelajari. Misalnya
dapat berupa membuat laporan, mengarang, mengerjakan soal-soal, membaca buku,
dan sebagainya.
Pelaksanaan kegiatan tugas
terstruktur harus memperhaTujuan Pembelajaranan azas-azas sebagai berikut:
a. Menunjang langsung
kegiatan intrakurikuler.
b. Hubungannya jelas
dengan pokok bahasan yang diajarkan.
c. Menunjang kebutuhan
siswa memanfaatkan ilmunya untuk menghadapi tantangan dalam kehidupannya.
d. Tidak menjadi beban
yang berlebihan bagi siswa yang dapat mengakibatkan gangguan fisik ataupun
psikologis.
e. Tidak menimbulkan
beban pembiayaan yang memberatkan siswa maupun orang tua siswa.
f. Perlu
pengadministrasian yang baik dan teratur.
Jadi pemberian tugas
terstruktur yang tidak berdasarkan azas-azas tersebut dapat berakibat pada
beban fisik maupun psikologis pada siswa, oleh sebab itu guru harus
mempertimbangkan pelaksanaannya secara baik.
- Bentuk Pelaksanaan Tugas Terstruktur
Kegiatan tugas terstruktur
dapat dilaksanakan secara perorangan maupun kelompok. Kerja kelompok mempunyai
arti yang sangat penting untuk mengembangkan sikap bergotong-royong, tenggang
rasa, persaingan sehat, kerjasama dalam kelompok dan kemampuan memimpin.
Jenis tugas hendaknya juga
disesuaikan dengan jumlah anggota kelompok, sehingga tugas benar-benar dapat
dilakukan secara kelompok. Jadi tugas yang tidak seharusnya diberikan secara
kelompok dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan baru bagi siswa, sedangkan tugas
perorangan mempunyai makna untuk mengembangkan sikap mandiri dan memungkinkan
penyesuaian kegiatan belajar dan minat serta kemampuan siswa.
- Langkah-langkah Pelaksanaan
Pelaksanaan tugas terstruktur
meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penilaian.
Persiapan dilakukan oleh guru dengan cara menyiapkan, merencanakan bahan atau
materi yang akan ditugaskan kepada siswa. Kemudian menginformasikan tugas
tersebut kepada siswa disertai penjelasan yang menyangkut pelaksanaan tugas
tersebut. Pelaksanaan dilakukan oleh siswa, yaitu siswa mulai mengerjakan tugas
tersebut secara perorangan maupun kelompok seperti yang dikehendaki guru.
Peyelesaian tugas tersebut dapat dalam satu kali tatap muka (1 minggu) atau
dalam beberapa kali tatap muka (beberapa minggu).
Penilaian kegiatan terstruktur
dilakukan terutama terhadap hasil kegiatan terstruktur. Penilaian kegiatan
terstruktur dilakukan setelah siswa selesai mengerjakan tugas terstruktur, dan
hasil penilaian tersebut dipertimbangkan dalam menentukan nilai rapor.
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan (action
research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah
pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif,
sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan
bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Menurut
Oja dan Sumarjan (dalam TiTujuan Pembelajaran Sugiarti, 1997; 8) mengelompokkan
penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru bertindak sebagai
peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c) Simultan terintegratif, dan
(d) administrasi social ekperimental.
Dalam
penelitian tindakan ini menggunakan bentu guru sebagai peneliti, penanggung
jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari
penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana
guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan,
pengamatan dan refleksi.
Dalam
penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti
sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa,
sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan
data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
Penelitian
ini akan dihenTujuan Pembelajaranan apabila ketuntasan belajar secara kalasikal
telah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak
tergantung pada jumlah siklus yang harus dilalui.
A. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
1.
Tempat Penelitian
Tempat
penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk
memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SMA Katolik Yos
Sudarso Kepanjen Kabupaten Malang tahun pelajaran 2008/2009.
2.
Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya
penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan
pada bulan September semester gasal 2008/2009.
3.
Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah
siswa-siswi kelas XII SMA Katolik Yos Sudarso Kepanjen Malang Tahun Pelajaran
2008/2009 pada pokok bahasan Biografi dan Novel.
B. Rancangan Penelitian
Penelitian
ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Menurut Tim Pelatih Proyek
PGSM, PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku
tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan
mereka dalam melaksanakan tugas,
memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta
memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan (dalam
Mukhlis, 2000: 3).
Sedangkah
menurut Mukhlis (2000: 5) PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat
sistematis reflektif oleh pelaku tindakan untuk memperbaiki kondisi
pembelajaran yang dilakukan.
Adapun
tujuan utama dari PTK adalah untuk memperbaiki/meningkatkan pratek pembelajaran
secara berkesinambungan, sedangkan tujuan penyertaannya adalah menumbuhkan
budaya meneliti di kalangan guru (Mukhlis, 2000: 5).
Sesuai dengan jenis penelitian yang
dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model
penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart
(dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu
ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),
observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian
tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar
3.1 Alur PTK
Penjelasan alur di atas adalah:
- Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
- Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model discovery .
- Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
- Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran,
yaitu putaran 1, 2 dan 3, masing- masing putaran dikenai perlakuan yang sama
(alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri
dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran
dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:
1.
Silabus
Yaitu
seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan
kelas, serta penilaian hasil belajar.
2.
Rencana Pelajaran (RP)
Yaitu
merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam
mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RP berisi kompetensi
dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan
kegiatan belajar mengajar.
3.
Lembar Kegiatan Siswa
Lembar
kegaian ini yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data
hasil eksperimen.
4. Lembar Observasi Kegiatan Belajar Mengajar
a.
Lembar
observasi pengolahan pembelajaran struktural, untuk mengamati kemampuan guru
dalam mengelola pembelajaran.
b.
Lembar
observasi aktivitas siswa dan guru, untuk mengamati aktivitas siswa dan guru
selama proses pembelajaran.
5.
Tes formatif
Tes ini
disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tes formatif ini
diberikan setiap akhir putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda
(objektif). Sebelumnya soal-soal ini berjumlah 46
D. Metode Pengumpulan Data
Data-data
yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan
pembelajaran struktural, observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.
E. Teknik Analisis Data
Untuk
mengetahui keefektivan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan
analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan
atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap
kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk
mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah
proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan
evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis
ini dihitung dengan menggunakan statisTujuan Pembelajaran sederhana yaitu:
- Untuk menilai ulangan atu tes formatif
Peneliti
melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi
dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes
formatif dapat dirumuskan:

Dengan :
= Nilai rata-rata
Σ X =
Jumlah semua nilai siswa
Σ N =
Jumlah siswa
2.
Untuk ketuntasan belajar
Ada dua kategori
ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal. Berdasarkan
petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu
seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65,
dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah
mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung persentase
ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

BAB
IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Data
penelitian yang diperoleh berupa hasil uji coba item butir soal, data observasi
berupa pengamatan pengelolaan pembelajaran struktural dan pengamatan aktivitas
siswa dan guru pada akhir pembelajaran, dan data tes formatif siswa pada setiap
siklus.
Data hasil uji coba item butir soal
digunakan untuk mendapatkan tes yang betul-betul mewakili apa yang diinginka.
Data ini selanjutnya dianalisis tingkat validitas, reliabilitas, taraf
kesukaran, dan daya pembeda.
Data lembar observasi diambil dari dua
pengamatan yaitu data pengamatan penglolaan pembelajaran struktural yang
digunakan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode pembelajaran struktural
dalam meningkatkan prestasi
Data tes formatif untuk mengetahui
peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran struktural.
A.
Analisis Item Butir
Soal
Sebelum
melaksanakan pengambilan data melalui instrumen penelitian berupa tes dan
mendapatkan tes yang baik, maka data tes tersebut diuji dan dianalisi. Uji coba
dilakukan pada siswa di luar sasaran penelitian. Analisis tes yang dilakukan
meliputi:
- Validitas
Validitas
butir soal dimaksudkan untuk mengetahui kelayakan tes sehingga dapat digunakan
sebagai instrument dalam penelitian ini. Dari perhitungan 46 soal diperoleh 16
soal tidak valid dan 30 soal valid. Hasil dari validits soal-soal dirangkum
dalam tabel di bawah ini.
Tabel 4.1. Soal Valid dan Tidak Valid Tes
Formatif Siswa
|
Soal
Valid
|
Soal
Tidak Valid
|
|
1,
2, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 17, 19, 21, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30,
36, 37, 38, 39, 41, 42, 43, 44, 45
|
3,
4, 8, 15, 16, 18, 20, 22, 24, 31, 32, 33, 34, 35, 40, 46
|
- Reliabilitas
Soal-soal
yang telah memenuhi syarat validitas diuji reliabilitasnya. Dari hasil
perhitungan diperoleh koefisien reliabilitas r11 sebesar 0, 775.
Harga ini lebih besar dari harga r product moment. Untuk jumlah siswa (N = 22)
dengan r (95%) = 0,423. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah
memenuhi syarat reliabilitas.
- Taraf Kesukaran (P)
Taraf
kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal. Hasil analisis
menunjukkan dari 46 soal yang diuji terdapat:
-
20
soal mudah
-
16
soal sedang
-
10
soal sukar
- Daya Pembeda
Analisis
daya pembeda dilakukan untuk mengetahui kemampuan soal dalam membedakan siswa
yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan rendah.
Dari
hasil analisis daya pembeda diperoleh soal yang berkriteria jelek sebanyak 14
soal, berkriteria cukup 20 soal, berkreteria baik 10 soal, dan yang berkriteria
tidak baik 2 soal. Dengan demikian soal-soal tes yang digunakan telah memenuhi
syara-syarat validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda.
B. Analisis Data Penelitian Persiklus
1.
Siklus I
a.
Tahap Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
b.
Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 3 September
2007 di kelas XII dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti
bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana
pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan (observasi) dilaksanakan
bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Hasil Tes Formatif Siswa
Pada Siklus I
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
60
|
|
√
|
|
2
|
70
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
70
|
√
|
|
14
|
70
|
√
|
|
|
4
|
60
|
|
√
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
80
|
√
|
|
16
|
70
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
90
|
√
|
|
|
7
|
70
|
√
|
|
18
|
60
|
|
√
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
60
|
|
√
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
70
|
√
|
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
70
|
√
|
|
|
11
|
50
|
|
√
|
22
|
60
|
|
√
|
|
Jumlah
|
750
|
7
|
4
|
Jumlah
|
770
|
8
|
3
|
|
Jumlah
Skor 1520
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata
Skor Tercapai 69,09
|
|||||||
Keterangan:
T : Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas : 15
Jumlah
siswa yang belum tuntas : 7
Klasikal
: Belum
tuntas
Tabel
4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I
|
No
|
Uraian
|
Hasil
Siklus I
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
69,09
15
68,18
|
Dari
tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran struktural
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 69,09 dan ketuntasan
belajar mencapai 68,18% atau ada 15 siswa
dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa
yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa
masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru
dengan menerapkan metode pembelajaran struktural.
2.
Siklus II
a.
Tahap perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 2, LKS 2, soal tes formatif II, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
b.
Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 17
September 2007 di kelas XII dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada
rencana pelajaran dengan memperhaTujuan Pembelajaranan revisi pada siklus I,
sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada
siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil
penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.
Tabel 4.4.
Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
60
|
|
√
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
80
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
|
3
|
80
|
√
|
|
14
|
80
|
√
|
|
|
4
|
90
|
√
|
|
15
|
80
|
√
|
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
80
|
√
|
|
|
6
|
60
|
|
√
|
17
|
60
|
|
√
|
|
7
|
80
|
√
|
|
18
|
80
|
√
|
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
60
|
|
√
|
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
80
|
√
|
|
|
11
|
90
|
√
|
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
840
|
8
|
3
|
Jumlah
|
840
|
9
|
2
|
|
Jumlah
Skor 1680
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata
Skor Tercapai 76,36
|
|||||||
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas : 17
Jumlah
siswa yang belum tuntas : 5
Klasikal
: Belum
tuntas
Tabel
4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
|
No
|
Uraian
|
Hasil
Siklus II
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
76,36
17
77,27
|
Dari
tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 76,36 dan
ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar
secara klasikal telah megalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.
Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan
bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
metode pembelajaran struktural.
3.
Siklus III
a.
Tahap Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung
b.
Tahap kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 23
September 2007 di kelas XII dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini
peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada
rencana pelajaran dengan memperhaTujuan Pembelajaranan revisi pada siklus II,
sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada
siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan
belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil
peneitian pada siklus III adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif
Siswa Pada Siklus III
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No.
Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
|
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
|
1
|
90
|
√
|
|
12
|
90
|
√
|
|
|
2
|
90
|
√
|
|
13
|
90
|
√
|
|
|
3
|
90
|
√
|
|
14
|
90
|
√
|
|
|
4
|
80
|
√
|
|
15
|
60
|
|
√
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
90
|
√
|
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
80
|
√
|
|
|
7
|
90
|
√
|
|
18
|
70
|
√
|
|
|
8
|
60
|
|
√
|
19
|
70
|
√
|
|
|
9
|
90
|
√
|
|
20
|
80
|
√
|
|
|
10
|
90
|
√
|
|
21
|
90
|
√
|
|
|
11
|
60
|
|
√
|
22
|
80
|
√
|
|
|
Jumlah
|
910
|
9
|
2
|
Jumlah
|
890
|
10
|
1
|
|
Jumlah
Skor 1800
Jumlah
Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata
Skor Tercapai 81,82
|
|||||||
Keterangan:
T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas : 19
Jumlah
siswa yang belum tuntas : 3
Klasikal
:
Tuntas
Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III
|
No
|
Uraian
|
Hasil
Siklus III
|
|
1
2
3
|
Nilai
rata-rata tes formatif
Jumlah
siswa yang tuntas belajar
Persentase
ketuntasan belajar
|
81,82
19
86,36
|
Berdasarkan
tabel diatas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,82 dan dari 22
siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan
belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar
86,36% (termasuk kategori tuntas). Hasil
pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan
hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan
guru dalam menerapkan pembelajaran struktural sehingga siswa menjadi lebih
terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
memahami materi yang telah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara
klasikal telah tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada siklus III.
c.
Refleksi
Pada
tahap ini akah dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih
kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran struktural.
Dari data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut:
1)
Selama
proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik.
Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya
untuk masing-masing aspek cukup besar.
2)
Berdasarkan
data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar
berlangsung.
3)
Kekurangan
pada siklus-siklus sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan
sehingga menjadi lebih baik.
4)
Hasil
belajar siswa pada siklus III mencapai ketuntasan.
d.
Revisi Pelaksanaan
Pada
siklus III guru telah menerapkan pembelajaran struktural dengan baik dan
dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses
belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi
terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhaTujuan Pembelajaranan untuk tindakan
selanjutnya adalah memaksimalkan dan mepertahankan apa yang telah ada dengan
tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan
pembelajaran struktural dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga
tujuan pembelajaran dapat tercapai.
C. Pembahasan
1.
Ketuntasan Hasil belajar Siswa
Melalui
hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran struktural memiliki dampak
positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari
semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru
(ketuntasan belajar meningkat dari sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing
68,18%, 77,27%, dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara
klasikal telah tercapai.
2.
Kemampuan Guru dalam Mengelola
Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran struktural
dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap
prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai
rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3.
Aktivitas Guru dan Siswa Dalam
Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran bahasa
Indonesia pada pokok bahasan Biografi dan Novel yang paling dominan adalah bekerja dengan
menggunakan alat/media, membaca/ memperhaTujuan Pembelajaranan penjelasan guru,
dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa
aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan
untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah
pembelajaran struktural dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang
muncul di antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan
kegiatan LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi
umpan balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas
cukup besar.
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari
hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan
berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1.
Pembelajaran dengan struktural memiliki
dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan
peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I
(68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).
- Penerapan metode pembelajaran struktural mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan hasil wawancara dengan sebagian siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengan metode pembelajaran struktural sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
B. Saran
Dari
hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar
mengajar bahasa Indonesia lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal
bagi siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut:
- Untuk melaksanakan model struktural memerlukan persiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan model struktural dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
- Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pembelajaran, walau dalam taraf yang sederhana, dimana siswa nantinya dapat menemukan pengetahuan baru, memperoleh konsep dan keterampilan, sehingga siswa berhasil atau mampu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
- Perlu adanya penelitian yang lebih lanjut, karena hasil penelitian ini hanya dilakukan di SMAK Yos Sudarso Kepanjen Malang tahun pelajaran 2007/2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar